Senin, 06 April 2015

Biografi KH Hasyim Asy’ari Pendiri NU, dan Ponpes Tebuireng Jombang

Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’ari, bagian belakangnya juga sering dieja Asy’ari atau Ashari, lahir 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang, adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.

Riwayat Keluarga

              KH Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.
Silsilah Nasab
Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) KH Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan Rasulullah dengan urutan lanjutan sebagai berikut:
Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Menurut catatan nasab Sa’adah BaAlawi Hadramaut, silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:
Husain bin Ali
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Ali al-Uraidhi
Muhammad an-Naqib
Isa ar-Rumi
Ahmad al-Muhajir
Ubaidullah
Alwi Awwal
Muhammad Sahibus Saumiah
Alwi ats-Tsani
Ali Khali’ Qasam
Muhammad Shahib Mirbath
Alwi Ammi al-Faqih
Abdul Malik (Ahmad Khan)
Abdullah (al-Azhamat) Khan
Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)
Maulana Ishaq
dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Pendidikan
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren PP Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan KH Cholil Bangkalan.
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.
Silsilah Keilmuan
KH Muhammad Saleh Darat, Semarang
KH Cholil Bangkalan
Kyai Ya’qub, Sidoarjo
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
Syaikh Ibrahim Arab
Syaikh Said Yamani
Syaikh Rahmaullah
Syaikh Sholeh Bafadlal
Sayyid Abbas Al Maliki
Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
Sayyid Husain Al Habsyi
Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
Sayyid Abdullah al-Zawawi
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad
Penerus Beliau
(Murid) :
Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim dan setelah lulus dari pesantren Tebuireng, Jombang, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagaitokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas, antara lain:
KH Abdul Wahab Hasbullah, Pesantren Tambak Beras, Jombang
KH Bisri Syansuri, Pesantren Denanyar, Jombang
KH R As’ad Syamsul Arifin
KH Wahid Hasyim (anaknya)
KH Achmad Shiddiq
Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India)
Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah)
Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria)
KH R Asnawi (Kudus)
KH Dahlan (Kudus)
KH Shaleh (Tayu)
(Keturunan)
Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu Nyai Khodijah, istri pertama yang merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu Kyai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.
Putra-putri dari Nyai Nafiqoh
(1) Hannah
(2) Khoiriyah
(3) Aisyah
(4) Azzah
(5) Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
(6) Abdul Hakim (Abdul Kholik)
(7) Abdul Karim
(8) Ubaidillah
(9) Mashuroh
(10) Muhammad Yusuf

Nyai Masruroh, istri ketiga, setelah istri kedua wafat, yaitu putri dari Kyai Hasan, pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu:

(1) Abdul Qodir
(2) Fatimah
(3) Khotijah
(4) Muhammad Ya’kub
Sumber :kumpulanbiografiulama.wordpress.com

Rutinan IPNU IPPNU di Ranting Gandul

Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Pilangkenceng Mengadakan rutinan yang diselenggarakan setiap satu bulan sekali dengan tempat bergilir di tiap ranting yang telah terbentuk, pada Pegajian rutinan kali ini ditempatkan di ranting IPNU IPPNU Gandul bertempat di Mushola Miftahul Qodir Ds. Gandul , pada hari Minggu tangggal 28 Oktober 2014 .
Acara Pengajian Rutinan di selenggarakan untuk memupuk rasa kecintaan anggota terhadap organisasi  IPNU dan IPPNU. Rutinan ini dihadiri oleh alumni makesta se kecematan pilangkenceng, namun pada kesempatan kali ini yang hadir sekitar 50 orang,, padahal yang ikut makesta aja sekitar 230an lho pada waktu itu,, pada kemana yaa... hmm mungkin pada punya kesibukan sendiri-sendiri hehehehee..(husnudhon waelah) dan Pada setiap rutinan Diwajibkan kepada ketua ranting IPNU IPPNU yang ditunjuk untuk berlatih Muhadhoroh dengan tema bebas. Ya mungkin itu agar kita terbiasa berbicara didepan orang banyak tanpa malu dan ndredek pastinya,,.
Pada kesempatan kali ini muhadhoroh jatuh pada Ranting desa pilangkenceng dan bulu, namun ketua IPNU dan IPPNU dari ranting bulu berhalangan hadir pada acara kali ini, jadi ya hanya ketua dari desa pilangkenceng saja yang ber-Muhadhoroh yaitu ketua IPNU nya Rekan Didik Suprianto dngan tema “Mensyukuri Nikmat Allah” dan ketua IPPNU nya rekanita xxx (*gk ngerti jenenge aku hehehehehee) dengan tema “Keutamaan Sholat Wajib”.. kalo aku sebelumnya sudah pernah waktu itu bertempat di ranting ngengor, ya rasanya ya ndredek-ndredek gimana gitu hehehe,,, la emang baru pertama kali muhadhoroh di depan orang banyak,,



dan juga diisi mauidhoh hasanah oleh Bpk Kyai Warsono Ali Munawar, beliau menyampaikan pentingnya berorganisasi di kalangan pemuda masa kini. Dan ikut hadir pula Pembina IPNU-IPPNU Anak Cabang yaitu bpk Fauzan.. beliau juga menyampaikan awal mula terbentuknya IPNU IPPNU anak cabang Pilangkenceng periode 2014-2016. Dan juga dihadiri oleh ketua Muslimat NU ranting Gandul.
            Semoga pengurus dan anggota IPNU-IPPNU Pilangkenceng beserta seluruh Anggota di ranting-ranting dapat terus mempertahankan rutinan yang sudah dijalankan agar keutuhan Nahdlatul Ulama dapat terus terjaga.. aamiin J
Okelah saya kira cukup sekian kapan-kapan di sambung lagi... selamat Belajar,Berjuang dan Bertakwa


IPNU IPPNU Pilangkenceng Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

             Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu tanda rasa syukur kita telah lahirnya insan yang paling mulia, insan yang menjadi panutan umat di seluruh dunia. Sosok pribadi yang selalu tepat untuk dijadikan teladan kehidupan manusia sepanjang zaman.Peringatan maulid juga sebagai tanda rasa cinta terhadap Nabi Muhammad SAW. Dan diharapkan agar kita selalu ingat dan mampu meneladani akhlak dan kepribadian beliau dalam kehidupan sehari-hari. maka tidaklah heran jika banyak umat islam yang memperingatinya.

          Kader-kader IPNU-IPPNU Pilangkenceng pun tidak mau ketinggalan untuk memperingatinya menurut versi kader-kader IPNU-IPPNU pilangkenceng sendiri,dalam peringatan Maulid nabi Muhammad SAW  ini seluruh pengurus IPNU-IPPNU mempunyai inisiatif berbeda yaitu dengan cara melakukan khataman al-quran di kantor MWC NU pada hari rabu tanggal 31 Desember sejak jam 05.00 pagi sebagian pengurus IPNU-IPPNU mulai khataman di sana.

 
             Disamping acara khotmil quran ternyata ada acara lain yang di agendakan pengurus IPNU-IPPNU Pilangkenceng yaitu berupa acara sholawat bersama diiringi tabuhan banjari dari IPNU Pilangkenceng sendiri, yang juga dilaksanakan di kantor MWC NU tercinta,,, sekaligus di isi oleh Muaidhoh Hasanah oleh Bpk Supangat Abdillah yang merupakan Ketua MWC NU Pilangkenceng. Bpk Pangat membawakan ceramahnya dengan logat yang khas yang mungkin memang profesinya sebagai dalang kli yaa.. sehingga menambah suasana canda tawa di antara rekan dan rekanita yang hadir...
Dalam ceramahnya Bpk Pangat kali ini beliau menekankan tentang “Orang yang Beruntung Adalah yang berumur Panjang dan banyak amal ibadahnya”
saya kira cukup sekian lain waktu di sambung lagi selamat ber-aktifitas