Senin, 28 September 2015

Gallery Foto Takbir Keliling 2015





























Minggu, 14 Juni 2015

KETUA PAC IPNU KEC PILANGKENCENG

        
Ketua PAC IPNU Pilangkenceng 
     

MIFTAHUL ANWAR, itulah nama pimpinan anak cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kecamatan Pilangkenceng yang kini sedang menjalankan kuliahnya sambil berjuang sebagai kader muda Nahdliyin. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, Santri yang satu ini tidak lupa akan tugasnya sebagai pemimpin yang harus selalu menjaga roda perputaran organisasi yang sangat dicintainya itu. Memang tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin organisasi dari pelajar NU tersebut, namun dengan dukungan dari seluruh anggotanya ia pun yakin bahwa IPNU akan tetap eksis di masyarakat, dengan melakukan kegiatan kegiatan keagamaan yang sifatnya memasyarakat dan bermanfaat. IPNU pun juga tidak melangkah sendiri, juga ada partner organisasi yaitu IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) yang selalu berperan aktif untuk menaungi kegiatan para pelajar NU.


Hampir satu periode IPNU-IPPNU Masa Khidmad 2014-2016 Sudah berjalan dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Di salah satu sambutannya ia pernah berkata kepada para anggotanya untuk jangan pernah menyerah untuk berjuang di NU, perlu kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi semua permasalahan, dan yang paling penting jangan pernah meninggalkan NU, dimana kita semua tahu bahwa NU adalah organisasi Islam di bawah garis komando para Kyai, para Ulama yang sangat luar biasa perjuangannya dalam negara Indonesia yang tercinta ini. Jadi kader IPNU harus biasa mewarisi perjuangan para Kyai untuk tetap mnghidupi dan mengayomi Nahdlatul Ulama. Tidak ada kata menyerah saat sudah berjuang di NU. Ia juga sering menyerukan anggotanya untuk tetap bersatu dan kompak, dan tidak lupa tetap menjaga nama baik IPNU maupun NU itu sendiri.


Itulah sedikit profil dari PAC IPNU Kec. Pilangkenceng yang akan terus berjuang dan berusaha demi kejayaan Nahdlatul Ulama, dan bangsa Indonesia.


Lanjutkan Semangat Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa,,,





Maju terus IPNU Indonesia.

Senin, 06 April 2015

Biografi KH Hasyim Asy’ari Pendiri NU, dan Ponpes Tebuireng Jombang

Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy’ari, bagian belakangnya juga sering dieja Asy’ari atau Ashari, lahir 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang, adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.

Riwayat Keluarga

              KH Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.
Silsilah Nasab
Merunut kepada silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) KH Hasyim Asy’ari memiliki garis keturunan sampai dengan Rasulullah dengan urutan lanjutan sebagai berikut:
Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Menurut catatan nasab Sa’adah BaAlawi Hadramaut, silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu sebagai berikut:
Husain bin Ali
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Ali al-Uraidhi
Muhammad an-Naqib
Isa ar-Rumi
Ahmad al-Muhajir
Ubaidullah
Alwi Awwal
Muhammad Sahibus Saumiah
Alwi ats-Tsani
Ali Khali’ Qasam
Muhammad Shahib Mirbath
Alwi Ammi al-Faqih
Abdul Malik (Ahmad Khan)
Abdullah (al-Azhamat) Khan
Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)
Maulana Ishaq
dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Pendidikan
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren PP Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan KH Cholil Bangkalan.
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng, Jombang. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.
Silsilah Keilmuan
KH Muhammad Saleh Darat, Semarang
KH Cholil Bangkalan
Kyai Ya’qub, Sidoarjo
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
Syaikh Ibrahim Arab
Syaikh Said Yamani
Syaikh Rahmaullah
Syaikh Sholeh Bafadlal
Sayyid Abbas Al Maliki
Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
Sayyid Husain Al Habsyi
Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
Sayyid Abdullah al-Zawawi
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad
Penerus Beliau
(Murid) :
Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai Hasyim dan setelah lulus dari pesantren Tebuireng, Jombang, tak sedikit di antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagaitokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas, antara lain:
KH Abdul Wahab Hasbullah, Pesantren Tambak Beras, Jombang
KH Bisri Syansuri, Pesantren Denanyar, Jombang
KH R As’ad Syamsul Arifin
KH Wahid Hasyim (anaknya)
KH Achmad Shiddiq
Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India)
Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah)
Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria)
KH R Asnawi (Kudus)
KH Dahlan (Kudus)
KH Shaleh (Tayu)
(Keturunan)
Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu Nyai Khodijah, istri pertama yang merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu Kyai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.
Putra-putri dari Nyai Nafiqoh
(1) Hannah
(2) Khoiriyah
(3) Aisyah
(4) Azzah
(5) Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
(6) Abdul Hakim (Abdul Kholik)
(7) Abdul Karim
(8) Ubaidillah
(9) Mashuroh
(10) Muhammad Yusuf

Nyai Masruroh, istri ketiga, setelah istri kedua wafat, yaitu putri dari Kyai Hasan, pengasuh pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu:

(1) Abdul Qodir
(2) Fatimah
(3) Khotijah
(4) Muhammad Ya’kub
Sumber :kumpulanbiografiulama.wordpress.com

Rutinan IPNU IPPNU di Ranting Gandul

Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Pilangkenceng Mengadakan rutinan yang diselenggarakan setiap satu bulan sekali dengan tempat bergilir di tiap ranting yang telah terbentuk, pada Pegajian rutinan kali ini ditempatkan di ranting IPNU IPPNU Gandul bertempat di Mushola Miftahul Qodir Ds. Gandul , pada hari Minggu tangggal 28 Oktober 2014 .
Acara Pengajian Rutinan di selenggarakan untuk memupuk rasa kecintaan anggota terhadap organisasi  IPNU dan IPPNU. Rutinan ini dihadiri oleh alumni makesta se kecematan pilangkenceng, namun pada kesempatan kali ini yang hadir sekitar 50 orang,, padahal yang ikut makesta aja sekitar 230an lho pada waktu itu,, pada kemana yaa... hmm mungkin pada punya kesibukan sendiri-sendiri hehehehee..(husnudhon waelah) dan Pada setiap rutinan Diwajibkan kepada ketua ranting IPNU IPPNU yang ditunjuk untuk berlatih Muhadhoroh dengan tema bebas. Ya mungkin itu agar kita terbiasa berbicara didepan orang banyak tanpa malu dan ndredek pastinya,,.
Pada kesempatan kali ini muhadhoroh jatuh pada Ranting desa pilangkenceng dan bulu, namun ketua IPNU dan IPPNU dari ranting bulu berhalangan hadir pada acara kali ini, jadi ya hanya ketua dari desa pilangkenceng saja yang ber-Muhadhoroh yaitu ketua IPNU nya Rekan Didik Suprianto dngan tema “Mensyukuri Nikmat Allah” dan ketua IPPNU nya rekanita xxx (*gk ngerti jenenge aku hehehehehee) dengan tema “Keutamaan Sholat Wajib”.. kalo aku sebelumnya sudah pernah waktu itu bertempat di ranting ngengor, ya rasanya ya ndredek-ndredek gimana gitu hehehe,,, la emang baru pertama kali muhadhoroh di depan orang banyak,,



dan juga diisi mauidhoh hasanah oleh Bpk Kyai Warsono Ali Munawar, beliau menyampaikan pentingnya berorganisasi di kalangan pemuda masa kini. Dan ikut hadir pula Pembina IPNU-IPPNU Anak Cabang yaitu bpk Fauzan.. beliau juga menyampaikan awal mula terbentuknya IPNU IPPNU anak cabang Pilangkenceng periode 2014-2016. Dan juga dihadiri oleh ketua Muslimat NU ranting Gandul.
            Semoga pengurus dan anggota IPNU-IPPNU Pilangkenceng beserta seluruh Anggota di ranting-ranting dapat terus mempertahankan rutinan yang sudah dijalankan agar keutuhan Nahdlatul Ulama dapat terus terjaga.. aamiin J
Okelah saya kira cukup sekian kapan-kapan di sambung lagi... selamat Belajar,Berjuang dan Bertakwa


IPNU IPPNU Pilangkenceng Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

             Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu tanda rasa syukur kita telah lahirnya insan yang paling mulia, insan yang menjadi panutan umat di seluruh dunia. Sosok pribadi yang selalu tepat untuk dijadikan teladan kehidupan manusia sepanjang zaman.Peringatan maulid juga sebagai tanda rasa cinta terhadap Nabi Muhammad SAW. Dan diharapkan agar kita selalu ingat dan mampu meneladani akhlak dan kepribadian beliau dalam kehidupan sehari-hari. maka tidaklah heran jika banyak umat islam yang memperingatinya.

          Kader-kader IPNU-IPPNU Pilangkenceng pun tidak mau ketinggalan untuk memperingatinya menurut versi kader-kader IPNU-IPPNU pilangkenceng sendiri,dalam peringatan Maulid nabi Muhammad SAW  ini seluruh pengurus IPNU-IPPNU mempunyai inisiatif berbeda yaitu dengan cara melakukan khataman al-quran di kantor MWC NU pada hari rabu tanggal 31 Desember sejak jam 05.00 pagi sebagian pengurus IPNU-IPPNU mulai khataman di sana.

 
             Disamping acara khotmil quran ternyata ada acara lain yang di agendakan pengurus IPNU-IPPNU Pilangkenceng yaitu berupa acara sholawat bersama diiringi tabuhan banjari dari IPNU Pilangkenceng sendiri, yang juga dilaksanakan di kantor MWC NU tercinta,,, sekaligus di isi oleh Muaidhoh Hasanah oleh Bpk Supangat Abdillah yang merupakan Ketua MWC NU Pilangkenceng. Bpk Pangat membawakan ceramahnya dengan logat yang khas yang mungkin memang profesinya sebagai dalang kli yaa.. sehingga menambah suasana canda tawa di antara rekan dan rekanita yang hadir...
Dalam ceramahnya Bpk Pangat kali ini beliau menekankan tentang “Orang yang Beruntung Adalah yang berumur Panjang dan banyak amal ibadahnya”
saya kira cukup sekian lain waktu di sambung lagi selamat ber-aktifitas



Sabtu, 24 Januari 2015

PAC IPNU IPPNU PILANGKENCENG ADAKAN MAKESTA

         MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) merupakan jenjang pengkaderan awal dalam organisasi IPNU IPPNU, MAKESTA ditujukan untuk menanamkan materi-materi dasar pada kader awal yang akan menjadi anggota IPNU maupun IPPNU. Untuk itu melihat pentingnya kegiatan ini, maka Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kecamatan Kutoarjo mengadakan kegiatan masa kesetiaan anggota atau makesta, mulai Sabtu 28 mei sampai Minggu 29 mei 2014, di MTs Negeri Pilangkenceng. 

          Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang merupakan para pelajar utusan dari Ranting IPNU yang baru di bentuk dari 8 desa di kecamatan Pilangkenceng kabupaten madiun.

            Materi yang disampaikan kepada peserta MAKESTA diantaranya : Ke-IPNU-IPPNU an (oleh PAC IPNU IPPNU PILANGKENCENG) , Ke-NU an (Oleh Ketua MWC NU PILANGKENCENG), ASWAJA , Ke-ORGANISASIAN (oleh PC IPU IPPNU MADIUN) , KEPEMIPINAN (oleh PC IPNU IPPNU MADIUN , KEWARGANEGARAAN (oleh bpk Komandan Koramil Pilangkenceng),

pem-Baiatan
peserta beristirahat

peserta bersantai
mars ipnu ippnu

ketua mwc NU menyampaikan materi
upacara malam

          Acara ini bertujuan untuk membentuk remaja nahdliyin yang berilmu dan berakhlaqul karimah. Dan juga Menanamkan keyakinan bahwa IPNU-IPPNU merupakan pilihan organisasi yang tepat sebagai sarana perjuangan. Diharapkan setelah acara ini para peserta bisa menjadi kader IPNU-IPPNU yang faham tentang nilai keislaman yang dikembangkan oleh NU (ASWAJA) , dan mau melibatkan diri dalam setiap kegiatan yang diadakan IPNU IPPNU PAC PILANGKENCENG maupun di ranting IPNU IPPNU di desa tempat tinggalnya.


Minggu, 04 Januari 2015

12 Kebiasaan KH Hasyim Asy’ari Kepada Gurunya


1. Selalu mencari guru yang benar-benar ahlinya    
KH Hasyim Asy’ari senang untuk belajar kepada guru yang alim, penuh kasih sayang, memiliki harga diri dan kemandirian dan terjaga dalam kemaksiatan. Guru yang benar benar ahlinya adalah didukung dengan keahlian mengajarnya dan dapat memberikan pemahaman yang mudah kepada santrinya.

2. Kompetensi yang baik dalam ilmu syariat
Guru yang dipilihnya adalah yang memiliki kompetensi terhadap ilmu syariat melalui guru guru sebelumnya sehingga ada keterkaitan dengan ilmu yang dipelajarinya.

3. Patuh dalam segala hal kepada gurunya
              KH Hasyim Asy’ari patuh kepada gurunya tidak saja dalam hal pelajaran tetapi dalam hal lainnya dengan selalu berkhikmat (melayani) kepada gurunya. Beliau memahami bahwa merendahkan diri dihadapan guru adalah kemuliaan, tunduk kepada guru adalah kebanggaan dan tawadhu kepada guru adalah keluhuran.

4. Mengakui kesempurnaan ilmu dalam diri seorang  guru 

            KH Hasyim Asy’ari memandang guru dengan pandangan kekaguman dan meyakini kesempurnaan ilmu dalam diri guru. Karena itu selama nyantri beliau tidak pernah megecewakan gurunya dengan sikapnya itu.


5. Selalu ingat akan hak dan keutamaan  gurunya

            KH Hasyim Asy’ari selalu ingat hak hak guru dan tidak melupakan keutamaanya, selalu mengingatnya selama-lamanya, baik ketika hidup maupun sudah wafat. Begitu juga dia selalu menjaga hubungan dengan keluarga guru dan orang-orang terdekatnya, menziarahi makamnya, meminta ampun dan mengirim doa dan sedekah kepada gurunya dan selalu meneladani sikap gurunya.

6. Sabar dengan sikap guru yang keras
 KH Hasyim Asy’ari selalu bersikap sabar dalam menghadapi watak gurunya yang kadang keras. Karasnya watak gurunya itu tidak membuatnya mundur dalam belajar kepadanya.


7. Selalu meminta izin untuk bertemu 
KH Hasyim Asy’ari kala hendak menemui gurunya diluar majelis atau pengajian selalu meminta izin dari gurunya. Beliau menginginkan bila guru menerima dirinya dalam kondisi yang tepat dan baik.

8. Sangat memperhatikan adab kepada gurunya 
KH Hasyim asy’ari kala belajar selalu penuh perhatian dan tidak menengok kecuali dibutuhkan. Beliau berkonsentrasi dalam memperhatikan setiap ucapan gurunya.

9. Sikap baik dan sopan kepada gurunya
KH Hasyim Asy’ari selalu bersikap baik dan sopan saat berhubungan dengan gurunya. Beliau tiada pernah membantah ucapan apalagi menyinggung perasaan gurunya.

10. Seolah baru mendengar mengenai pelajaran yg sudah diketahuinya
Ketika gurunya menyampaikan pelajaran dengan menceritakan suatu kisah yang sudah diketahuinya, beliau akan bersikap seolah-olah baru mendengarnya, tetap memperhatikan dengan penuh seksama. Baginya ini bukan kebohongan, tetapi bentuk menyenangkan gurunya.

11. Tidak pernah mendahului atau memotong ucapan gurunya
KH Hasyim Asy’ari tidak pernah mendahului atau memotong pembicaraan guru terkait masalah atau penjelasan terkait soal agama. Beliau lebih memilih bersabar dan membiarkan gurunya menyelesaikan penjelasannya.

12. Selalu menerima dengan tangan kanannya
Ketika KH Hasyim asy’ari menerima sesuatu dari guru ia selalu menerima dengan tangan kanannya. Begitupula ketika beliau ingin memberikan kitab atau buku, ia selalu memberikannya dalam kondisi terbuka dan siap dibaca oleh gurunya.


Itulah 12 kebiasaan yang dilakukan KH Hayim Asy’ari selama menuntut ilmu atau nyantri di berbagai pesantren. Ia melakukannya bukan karena ikut-ikutan tetapi keluar dari dasar ilmu dan kebiasaanya yang menjadikan karakter dalam dirinya. Kareakter itu yang kelak membantunya menjadi orang besar, bahkan melebihi gurunya sendiri.

sumber :perkarahati.wordpress.com