Senin, 28 September 2015
Minggu, 14 Juni 2015
KETUA PAC IPNU KEC PILANGKENCENG
MIFTAHUL ANWAR, itulah nama pimpinan anak cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kecamatan Pilangkenceng yang kini sedang menjalankan kuliahnya sambil berjuang sebagai kader muda Nahdliyin. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, Santri yang satu ini tidak lupa akan tugasnya sebagai pemimpin yang harus selalu menjaga roda perputaran organisasi yang sangat dicintainya itu. Memang tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin organisasi dari pelajar NU tersebut, namun dengan dukungan dari seluruh anggotanya ia pun yakin bahwa IPNU akan tetap eksis di masyarakat, dengan melakukan kegiatan kegiatan keagamaan yang sifatnya memasyarakat dan bermanfaat. IPNU pun juga tidak melangkah sendiri, juga ada partner organisasi yaitu IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) yang selalu berperan aktif untuk menaungi kegiatan para pelajar NU.
Hampir satu periode IPNU-IPPNU Masa Khidmad 2014-2016 Sudah berjalan dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Di salah satu sambutannya ia pernah berkata kepada para anggotanya untuk jangan pernah menyerah untuk berjuang di NU, perlu kesabaran yang luar biasa untuk menghadapi semua permasalahan, dan yang paling penting jangan pernah meninggalkan NU, dimana kita semua tahu bahwa NU adalah organisasi Islam di bawah garis komando para Kyai, para Ulama yang sangat luar biasa perjuangannya dalam negara Indonesia yang tercinta ini. Jadi kader IPNU harus biasa mewarisi perjuangan para Kyai untuk tetap mnghidupi dan mengayomi Nahdlatul Ulama. Tidak ada kata menyerah saat sudah berjuang di NU. Ia juga sering menyerukan anggotanya untuk tetap bersatu dan kompak, dan tidak lupa tetap menjaga nama baik IPNU maupun NU itu sendiri.
Itulah sedikit profil dari PAC IPNU Kec. Pilangkenceng yang akan terus berjuang dan berusaha demi kejayaan Nahdlatul Ulama, dan bangsa Indonesia.
Lanjutkan Semangat Belajar, Berjuang, dan Bertaqwa,,,
Maju terus IPNU Indonesia.
Senin, 06 April 2015
Biografi KH Hasyim Asy’ari Pendiri NU, dan Ponpes Tebuireng Jombang
Kyai Haji Mohammad
Hasyim Asy’ari, bagian belakangnya juga sering dieja Asy’ari atau Ashari, lahir
10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947; dimakamkan di
Tebu Ireng, Jombang, adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam
yang terbesar di Indonesia.
Riwayat Keluarga
KH Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Kyai Asyari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Hasyim merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang). Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Namun keluarga Hasyim adalah keluarga Kyai. Kakeknya, Kyai Utsman memimpin Pesantren Nggedang, sebelah utara Jombang. Sedangkan ayahnya sendiri, Kyai Asy’ari, memimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Dua orang inilah yang menanamkan nilai dan dasar-dasar Islam secara kokoh kepada Hasyim.
Silsilah Nasab
Merunut kepada
silsilah beliau, melalui Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) KH Hasyim Asy’ari
memiliki garis keturunan sampai dengan Rasulullah dengan urutan lanjutan
sebagai berikut:
Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Abdurrohman / Jaka Tingkir (Sultan Pajang)
Abdul Halim (Pangeran Benawa)
Abdurrohman (Pangeran Samhud Bagda)
Abdul Halim
Abdul Wahid
Abu Sarwan
KH. Asy’ari (Jombang)
KH. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Menurut catatan nasab Sa’adah BaAlawi Hadramaut,
silsilah dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) merupakan keturunan Rasulullah
SAW, yaitu sebagai berikut:
Husain bin Ali
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Ali al-Uraidhi
Muhammad an-Naqib
Isa ar-Rumi
Ahmad al-Muhajir
Ubaidullah
Alwi Awwal
Muhammad Sahibus Saumiah
Alwi ats-Tsani
Ali Khali’ Qasam
Muhammad Shahib Mirbath
Alwi Ammi al-Faqih
Abdul Malik (Ahmad Khan)
Abdullah (al-Azhamat) Khan
Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)
Maulana Ishaq
dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja’far ash-Shadiq
Ali al-Uraidhi
Muhammad an-Naqib
Isa ar-Rumi
Ahmad al-Muhajir
Ubaidullah
Alwi Awwal
Muhammad Sahibus Saumiah
Alwi ats-Tsani
Ali Khali’ Qasam
Muhammad Shahib Mirbath
Alwi Ammi al-Faqih
Abdul Malik (Ahmad Khan)
Abdullah (al-Azhamat) Khan
Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan)
Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar)
Maulana Ishaq
dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri)
Pendidikan
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren PP Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan KH Cholil Bangkalan.
Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasan Hasyim memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya. Usia 15 tahun Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya, berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren PP Langitan, Widang, Tuban. Pindah lagi Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan di Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan KH Cholil Bangkalan.
KH Hasyim Asyari belajar dasar-dasar
agama dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman yang juga pemimpin Pesantren Nggedang
di Jombang. Sejak usia 15 tahun, beliau berkelana menimba ilmu di berbagai
pesantren, antara lain Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di
Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Kademangan di Bangkalan dan
Pesantren Siwalan di Sidoarjo.
Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi di
Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kyai Ya’qub inilah,
agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kyai
Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama.
Cukup lama –lima tahun– Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya
Kyai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu.
Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru
berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kyai Ya’qub.
Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna
menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air,
sesudah istri dan anaknya meninggal.
Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah
Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun dan berguru pada Syaikh
Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, Syaikh Ahmad Amin Al
Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh
Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan
Sayyid Husein Al Habsyi. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di
pesanten milik kakeknya, Kyai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren
Tebuireng, Jombang. Kyai Hasyim bukan saja Kyai ternama, melainkan juga seorang
petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam
seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia
memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi Surabaya berdagang kuda, besi dan
menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kyai Hasyim
menghidupi keluarga dan pesantrennya.
Silsilah Keilmuan
KH Muhammad Saleh Darat, Semarang
KH Cholil Bangkalan
Kyai Ya’qub, Sidoarjo
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
Syaikh Ibrahim Arab
Syaikh Said Yamani
Syaikh Rahmaullah
Syaikh Sholeh Bafadlal
Sayyid Abbas Al Maliki
Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
Sayyid Husain Al Habsyi
Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
Sayyid Abdullah al-Zawawi
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad
KH Cholil Bangkalan
Kyai Ya’qub, Sidoarjo
Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau
Syaikh Mahfudz At-Tarmasi
Syaikh Ahmad Amin Al Aththar
Syaikh Ibrahim Arab
Syaikh Said Yamani
Syaikh Rahmaullah
Syaikh Sholeh Bafadlal
Sayyid Abbas Al Maliki
Sayyid Alwi bin Ahmad As Segaf
Sayyid Husain Al Habsyi
Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani
Sayyid Abdullah al-Zawawi
Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas
Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi
Memperoleh ijazah dari Habib Abdullah bin Ali Al Haddad
Penerus Beliau
(Murid) :
(Murid) :
Ribuan santri menimba ilmu kepada Kyai
Hasyim dan setelah lulus dari pesantren Tebuireng, Jombang, tak sedikit di
antara santri Kyai Hasyim kemudian tampil sebagaitokoh dan ulama kondang dan
berpengaruh luas, antara lain:
KH Abdul Wahab Hasbullah, Pesantren Tambak Beras,
Jombang
KH Bisri Syansuri, Pesantren Denanyar, Jombang
KH R As’ad Syamsul Arifin
KH Wahid Hasyim (anaknya)
KH Achmad Shiddiq
Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India)
Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah)
Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria)
KH R Asnawi (Kudus)
KH Dahlan (Kudus)
KH Shaleh (Tayu)
KH Bisri Syansuri, Pesantren Denanyar, Jombang
KH R As’ad Syamsul Arifin
KH Wahid Hasyim (anaknya)
KH Achmad Shiddiq
Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India)
Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Makkah)
Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria)
KH R Asnawi (Kudus)
KH Dahlan (Kudus)
KH Shaleh (Tayu)
(Keturunan)
Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu Nyai Khodijah, istri pertama yang merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu Kyai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.
Berikut disampaikan silsilah keturunan beliau sampai dengan tingkat cucu Nyai Khodijah, istri pertama yang merupakan putri dari Kyai Ya’qub, Sidoarjo. Meninggal dunia sewaktu Kyai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Mekkah Nyai Nafiqoh, istri kedua, setelah istri pertama wafat, yaitu putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun.
Putra-putri dari Nyai Nafiqoh
(1) Hannah
(2) Khoiriyah
(3) Aisyah
(4) Azzah
(5) Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
(6) Abdul Hakim (Abdul Kholik)
(7) Abdul Karim
(8) Ubaidillah
(9) Mashuroh
(10) Muhammad Yusuf
(1) Hannah
(2) Khoiriyah
(3) Aisyah
(4) Azzah
(5) Abdul Wahid atau sering juga dipanggil sebagai Wahid Hasyim
(6) Abdul Hakim (Abdul Kholik)
(7) Abdul Karim
(8) Ubaidillah
(9) Mashuroh
(10) Muhammad Yusuf
Nyai Masruroh, istri ketiga, setelah
istri kedua wafat, yaitu putri dari Kyai Hasan, pengasuh pengasuh Pondok
Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kyai Hasyim dikarunia 4
orang putra-putri, yaitu:
(1) Abdul Qodir
(2) Fatimah
(3) Khotijah
(4) Muhammad Ya’kub
(2) Fatimah
(3) Khotijah
(4) Muhammad Ya’kub
Sumber :kumpulanbiografiulama.wordpress.com
Rutinan IPNU IPPNU di Ranting Gandul
Pimpinan
Anak Cabang IPNU-IPPNU Pilangkenceng Mengadakan rutinan yang diselenggarakan
setiap satu bulan sekali dengan tempat bergilir di tiap ranting yang telah
terbentuk, pada Pegajian rutinan kali ini ditempatkan di ranting IPNU IPPNU Gandul bertempat di Mushola Miftahul Qodir Ds.
Gandul , pada hari Minggu tangggal 28 Oktober 2014 .
Acara Pengajian
Rutinan di selenggarakan untuk memupuk rasa kecintaan anggota terhadap organisasi
IPNU dan IPPNU. Rutinan ini dihadiri
oleh alumni makesta se kecematan pilangkenceng, namun pada kesempatan kali ini
yang hadir sekitar 50 orang,, padahal yang ikut makesta aja sekitar 230an lho
pada waktu itu,, pada kemana yaa... hmm mungkin pada punya kesibukan
sendiri-sendiri hehehehee..(husnudhon waelah) dan Pada setiap rutinan
Diwajibkan kepada ketua ranting IPNU IPPNU yang ditunjuk untuk berlatih
Muhadhoroh dengan tema bebas. Ya mungkin itu agar kita terbiasa berbicara
didepan orang banyak tanpa malu dan ndredek pastinya,,.
Pada kesempatan
kali ini muhadhoroh jatuh pada Ranting desa pilangkenceng dan bulu, namun ketua
IPNU dan IPPNU dari ranting bulu berhalangan hadir pada acara kali ini, jadi ya
hanya ketua dari desa pilangkenceng saja yang ber-Muhadhoroh yaitu ketua IPNU
nya Rekan Didik Suprianto dngan tema “Mensyukuri Nikmat Allah” dan ketua IPPNU
nya rekanita xxx (*gk ngerti jenenge aku hehehehehee) dengan tema “Keutamaan
Sholat Wajib”.. kalo aku sebelumnya sudah pernah waktu itu bertempat di ranting
ngengor, ya rasanya ya ndredek-ndredek gimana gitu hehehe,,, la emang baru
pertama kali muhadhoroh di depan orang banyak,,
dan
juga diisi mauidhoh hasanah oleh Bpk Kyai Warsono Ali Munawar, beliau
menyampaikan pentingnya berorganisasi di kalangan pemuda masa kini. Dan ikut
hadir pula Pembina IPNU-IPPNU Anak Cabang yaitu bpk Fauzan.. beliau juga
menyampaikan awal mula terbentuknya IPNU IPPNU anak cabang Pilangkenceng
periode 2014-2016. Dan juga dihadiri oleh ketua Muslimat NU ranting Gandul.
Semoga pengurus dan anggota
IPNU-IPPNU Pilangkenceng beserta seluruh Anggota di ranting-ranting dapat terus
mempertahankan rutinan yang sudah dijalankan agar keutuhan Nahdlatul Ulama
dapat terus terjaga.. aamiin J
Okelah saya
kira cukup sekian kapan-kapan di sambung lagi... selamat Belajar,Berjuang dan
Bertakwa
IPNU IPPNU Pilangkenceng Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW
Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu tanda rasa syukur
kita telah lahirnya insan yang paling mulia, insan yang menjadi panutan umat di
seluruh dunia. Sosok pribadi yang selalu tepat untuk dijadikan teladan
kehidupan manusia sepanjang zaman.Peringatan maulid juga sebagai tanda rasa
cinta terhadap Nabi Muhammad SAW. Dan diharapkan agar
kita selalu ingat dan mampu meneladani akhlak dan kepribadian beliau dalam
kehidupan sehari-hari. maka tidaklah heran jika banyak umat islam yang
memperingatinya.
Kader-kader IPNU-IPPNU Pilangkenceng pun tidak mau ketinggalan untuk
memperingatinya menurut versi kader-kader IPNU-IPPNU pilangkenceng
sendiri,dalam peringatan Maulid nabi Muhammad SAW ini seluruh pengurus IPNU-IPPNU mempunyai
inisiatif berbeda yaitu dengan cara melakukan khataman al-quran di kantor MWC
NU pada hari rabu tanggal 31 Desember sejak jam 05.00 pagi sebagian pengurus
IPNU-IPPNU mulai khataman di sana.
Disamping acara khotmil quran ternyata ada acara lain yang di agendakan pengurus IPNU-IPPNU Pilangkenceng yaitu berupa acara sholawat bersama diiringi tabuhan banjari dari IPNU Pilangkenceng sendiri, yang juga dilaksanakan di kantor MWC NU tercinta,,, sekaligus di isi oleh Muaidhoh Hasanah oleh Bpk Supangat Abdillah yang merupakan Ketua MWC NU Pilangkenceng. Bpk Pangat membawakan ceramahnya dengan logat yang khas yang mungkin memang profesinya sebagai dalang kli yaa.. sehingga menambah suasana canda tawa di antara rekan dan rekanita yang hadir...
Dalam ceramahnya Bpk Pangat kali ini beliau menekankan tentang “Orang
yang Beruntung Adalah yang berumur Panjang dan banyak amal ibadahnya”
saya kira
cukup sekian lain waktu di sambung lagi selamat ber-aktifitas
Sabtu, 24 Januari 2015
PAC IPNU IPPNU PILANGKENCENG ADAKAN MAKESTA
MAKESTA
(Masa Kesetiaan Anggota) merupakan jenjang pengkaderan awal dalam organisasi
IPNU IPPNU, MAKESTA ditujukan untuk menanamkan materi-materi dasar pada kader
awal yang akan menjadi anggota IPNU maupun IPPNU. Untuk itu melihat
pentingnya kegiatan ini, maka Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul
Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kecamatan Kutoarjo
mengadakan kegiatan masa kesetiaan anggota atau makesta, mulai Sabtu 28 mei
sampai Minggu 29 mei 2014, di MTs Negeri Pilangkenceng.
Kegiatan tersebut diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang merupakan para
pelajar utusan dari Ranting IPNU yang baru di bentuk dari 8 desa di kecamatan
Pilangkenceng kabupaten madiun.
Materi yang disampaikan kepada peserta MAKESTA diantaranya : Ke-IPNU-IPPNU an
(oleh PAC IPNU IPPNU PILANGKENCENG) , Ke-NU an (Oleh Ketua MWC NU
PILANGKENCENG), ASWAJA , Ke-ORGANISASIAN (oleh PC IPU IPPNU MADIUN) ,
KEPEMIPINAN (oleh PC IPNU IPPNU MADIUN , KEWARGANEGARAAN (oleh bpk Komandan
Koramil Pilangkenceng),
| pem-Baiatan |
| peserta beristirahat |
| peserta bersantai |
| ketua mwc NU menyampaikan materi |
| upacara malam |
Acara ini bertujuan untuk membentuk remaja nahdliyin yang berilmu dan
berakhlaqul karimah. Dan juga Menanamkan keyakinan bahwa IPNU-IPPNU merupakan
pilihan organisasi yang tepat sebagai sarana perjuangan. Diharapkan setelah
acara ini para peserta bisa menjadi kader IPNU-IPPNU yang faham tentang nilai
keislaman yang dikembangkan oleh NU (ASWAJA) , dan mau melibatkan diri dalam
setiap kegiatan yang diadakan IPNU IPPNU PAC PILANGKENCENG maupun di ranting
IPNU IPPNU di desa tempat tinggalnya.
Minggu, 04 Januari 2015
12 Kebiasaan KH Hasyim Asy’ari Kepada Gurunya
1. Selalu mencari guru
yang benar-benar ahlinya
KH Hasyim Asy’ari senang untuk belajar kepada guru yang alim, penuh kasih
sayang, memiliki harga diri dan kemandirian dan terjaga dalam kemaksiatan. Guru
yang benar benar ahlinya adalah didukung dengan keahlian mengajarnya dan dapat
memberikan pemahaman yang mudah kepada santrinya.
2. Kompetensi yang baik dalam ilmu syariat
Guru yang dipilihnya adalah yang memiliki kompetensi terhadap ilmu syariat
melalui guru guru sebelumnya sehingga ada keterkaitan dengan ilmu yang
dipelajarinya.
3. Patuh dalam segala
hal kepada gurunya
KH Hasyim Asy’ari patuh kepada
gurunya tidak saja dalam hal pelajaran tetapi dalam hal lainnya dengan selalu berkhikmat
(melayani) kepada gurunya. Beliau memahami bahwa merendahkan diri dihadapan
guru adalah kemuliaan, tunduk kepada guru adalah kebanggaan dan tawadhu kepada
guru adalah keluhuran.
4. Mengakui kesempurnaan ilmu dalam diri seorang guru
4. Mengakui kesempurnaan ilmu dalam diri seorang guru
KH Hasyim Asy’ari memandang guru dengan pandangan kekaguman dan meyakini kesempurnaan ilmu dalam diri guru. Karena itu selama nyantri beliau tidak pernah megecewakan gurunya dengan sikapnya itu.
5. Selalu ingat akan hak dan keutamaan gurunya
KH Hasyim Asy’ari selalu ingat hak hak guru dan tidak melupakan keutamaanya, selalu mengingatnya selama-lamanya, baik ketika hidup maupun sudah wafat. Begitu juga dia selalu menjaga hubungan dengan keluarga guru dan orang-orang terdekatnya, menziarahi makamnya, meminta ampun dan mengirim doa dan sedekah kepada gurunya dan selalu meneladani sikap gurunya.
6. Sabar dengan sikap guru yang keras
KH Hasyim Asy’ari selalu bersikap sabar dalam
menghadapi watak gurunya yang kadang keras. Karasnya watak gurunya itu tidak
membuatnya mundur dalam belajar kepadanya.
7. Selalu meminta izin untuk bertemu
KH Hasyim Asy’ari kala
hendak menemui gurunya diluar majelis atau pengajian selalu meminta izin dari
gurunya. Beliau menginginkan bila guru menerima dirinya dalam kondisi yang
tepat dan baik.
8. Sangat memperhatikan adab kepada gurunya
KH Hasyim asy’ari kala
belajar selalu penuh perhatian dan tidak menengok kecuali dibutuhkan. Beliau
berkonsentrasi dalam memperhatikan setiap ucapan gurunya.
9. Sikap baik dan sopan kepada gurunya
KH Hasyim Asy’ari
selalu bersikap baik dan sopan saat berhubungan dengan gurunya. Beliau tiada
pernah membantah ucapan apalagi menyinggung perasaan gurunya.
10. Seolah baru mendengar mengenai pelajaran yg sudah diketahuinya
Ketika gurunya
menyampaikan pelajaran dengan menceritakan suatu kisah yang sudah diketahuinya,
beliau akan bersikap seolah-olah baru mendengarnya, tetap memperhatikan dengan
penuh seksama. Baginya ini bukan kebohongan, tetapi bentuk menyenangkan
gurunya.
11. Tidak pernah mendahului atau memotong ucapan gurunya
KH Hasyim Asy’ari
tidak pernah mendahului atau memotong pembicaraan guru terkait masalah atau
penjelasan terkait soal agama. Beliau lebih memilih bersabar dan membiarkan
gurunya menyelesaikan penjelasannya.
12. Selalu menerima dengan tangan kanannya
12. Selalu menerima dengan tangan kanannya
Ketika KH Hasyim
asy’ari menerima sesuatu dari guru ia selalu menerima dengan tangan kanannya.
Begitupula ketika beliau ingin memberikan kitab atau buku, ia selalu
memberikannya dalam kondisi terbuka dan siap dibaca oleh gurunya.
Itulah 12 kebiasaan yang dilakukan KH Hayim Asy’ari selama menuntut ilmu atau nyantri di berbagai pesantren. Ia melakukannya bukan karena ikut-ikutan tetapi keluar dari dasar ilmu dan kebiasaanya yang menjadikan karakter dalam dirinya. Kareakter itu yang kelak membantunya menjadi orang besar, bahkan melebihi gurunya sendiri.
sumber :perkarahati.wordpress.com









